Breaking News

Maha Karya Sang Imam

Menikmati senja disore hari, ba’da menunaikan shalat ashar aku duduk di sebuah bangku pada halaman rumah gubukku. Segelas kopi dan beberapa batang rokok’ menemani. Hal ini sering aku lakukan, untuk sekedar muhasabah menanti adzan magrib atau melepas rasa penat setelah lelah beraktivitas diluar.

Disela dudukku, terdengar jelas lantunan Qosidah Sholawat yang dibacakan berjamaah oleh anak-anak pada sebuah masjid melalui speaker / pengeras suara. Aku paham betul, dengan syair Qosidah Sholawat yang tengah anak-anak tersebut lantunkan. Sebuah syair Qosidah Sholawat yang dikarang seorang imam sebagai pengingat umat kepada keluarga Rasul SAW dan para Sahabat.

“Kisah Sang Rasul”, nama syair Qosidah Sholawat tersebut. Dari data yang aku peroleh, pengarangnya adalah seorang Imam Besar Front Pembela Islam’ Al-Habib Muhammad Rizieq Bin Husain Syihab.

Tata bahasa, Sirr, makna yang mendalam serta struktur kalimat yang mudah dimengerti, mungkin menjadi sebab syair Qosidah Sholawat tersebut begitu dicintai oleh semua kalangan umat islam secara global. Fakta dilapangan, sangat banyak Majelis Ta’lim yang melantunkan syair tersebut pada berbagai acara dan penghias syiar. Berikut adalah kutipan syairnya :

Roohatil athyaaru tasyduu fii layaaliil maulidi
Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi
Roohatil athyaaru tasyduu fii layaaliil maulidi
Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi
Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi
Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi
Fii layaaliil maulidi
Fii layaaliil maulidi

Abdullah nama ayahnya, Aminah ibundanya
Abdul Muthalib kakenya, Abu Thalib pamannya
Khadijah istri setia, Fathimah putri tercinta
Semua bernasab mulia, dari Quraisy ternama
Inilah kisah sang Rosul, yang penuh suka duka
Inilah kisah sang Rosul, yang penuh suka duka
Oh…Penuh Suka Duka, Oh…Penuh Suka Duka

Dua bulan di kandungan, wafat ayahandanya
Tahun Gajah dilahirkan, yatim dengan kakeknya
Sesuai adat yang ada, disusui Halimah
Enam tahun usianya, wafat ibu tercinta
Inilah kisah sang Rosul, yang penuh suka duka
Inilah kisah sang Rosul, yang penuh suka duka
Oh…Penuh Suka Duka, Oh…Penuh Suka Duka

Delapan tahun usia, kakek meninggalkannya
Abu Thalib pun menjaga, paman paling membela
Saat kecil penggembala, dagang saat remaja
Umur dua puluh lima, memperistri Khadijah
Inilah kisah sang Rosul, yang penuh suka duka
Inilah kisah sang Rosul, yang penuh suka duka
Oh…Penuh Suka Duka, Oh…Penuh Suka Duka

Diumur ketiga puluh, mempersatukan bangsa
Saat peletakan batu, Hajar Aswad mulia
Genap 40 tahun, mendapatkan risalah
Ia pun menjadi Rosul, akhir para Anbiya
Inilah kisah sang Rosul, yang penuh suka duka
Inilah kisah sang Rosul, yang penuh suka duka
Oh…Penuh Suka Duka, Oh…Penuh Suka Duka

Roohatil athyaaru tasyduu fii layaaliil maulidi
Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi
Roohatil athyaaru tasyduu fii layaaliil maulidi
Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi
Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi
Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi
Fii layaaliil maulidi
Fii layaaliil maulidi

 

“Latar Belakang Penulisan”

Dari beberapa majelis yang pernah aku singgahi, serta sebuah video yang tersebar di Youtube ku dapatkan beberapa informasi. Syair tersebut sengaja Habib Rizieq Syihab karang karna desakan rasa keprihatinan yang mendalam dan protes keras atas banyaknya golongan radikal yang seringkali mencaci maki keluarga Nabi SAW serta para sahabat. Pengarangan syair tersebut juga bertujuan sebagai pengingat umat bila terjadi kealfaan atas sejarah keluarga Rasul SAW dan para sahabat.

Berbicara tentang Ahlul Bait Nabi SAW, erat kaitannya dengan akidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang menjadi mayoritas golongan dinegri ini. Diantara sekian banyak ciri akidah Ahlu Sunnah adalah mencintai keluarga Nabi SAW.

Dasar pemikiran Ahlu Sunnah berkiblat kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, Kias dan Ijma Ulama. Pada akidah berkiblat kepada Imam Asyari dan Imam Ma’turidi, pada fikihnya berkiblat kepada pendapat mazhaibul arbaah : Syafii, Maliki, Hanafi dan Hambali. Pada jalur Tasawufnya, berkiblat kepada Syeikh Junaidi Al-Bagdadi. Sangat banyak argument tentang Ahlu Sunnah Wal Jamaah, tak mampu aku jabarkan seutuhnya’ karna keterbatasan kapasitas pemahamanku yang sempit.

Begitu banyak figure atau tokoh Ahlu Sunnah yang lurus di zaman ini, yang orientasi pemikirannya tidak sedikitpun terkontaminasi pemikiran Sekuler dan Liberal. Dan Al-Habib Muhammad Rizieq Bin Husain Syihab adalah salah satunya. Akidah beliau, kuat berpegang kepada Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Begitu pula organisasi yang dipimpinnya (FPI).

Beliau ku kenal sebagai seorang pejuang, seorang mujahid pembela islam. Beliau juga adalah salah satu dari sekian banyak keturunan Nabi SAW. Namun, bagi sebagian orang sekuler menilai beliau keras dan radikal. Insya Allah pada artikel selanjutnya, akan aku posting biografi lengkap tentang beliau, rekaman ceramah serta segudang catatan pendukung sepak terjang organisasinya.

 

“Al-Habib Syekh Bin Abdul Qodir Assegaf Solo’ bercerita”

Suatu ketika, seorang Habib yang namanya tidak disebutkan tengah mendaki sebuah gunung didaerah Malang Jawa Timur. Sesampainya dipuncak gunung, waktu ashar pun tiba. Habib tersebut menyempatkan diri untuk sholat ashar pada sebuah Musholla dipuncak gunung. Disela kekhusuan sholatnya, sang Habib tersebut mendengar beberapa anak kecil yang tengah bersholawat membacakan syair Qosidah Kisah Sang Rosul. Habib tersebut seolah hilang kekhusyuan dalam sholatnya, karna secara tak sengaja terhayati setiap makna untaian kata yang terkandung pada tiap bait syair Qosidah Kisah Sang Rosul tersebut.

Aku yang mendengar cerita dari habib Syekh diatas menjadi tertegun dibuatnya. Dalam renung, batinku bertanya : Mustahil rasanya, sebuah syair bisa dikenal luas hingga puncak gunung dan pelosok nusantara’ jika pengarangnya hanyalah seorang manusia biasa???

 

“Pendekatan Seni Dalam Pendidikan”

Kabarnya, syair Qosidah Kisah Sang Rosul ini telah menjadi standart wajib untuk dihafal dan digunakan pada beberapa sekolah dasar seperti Madrasah Diniyah dan Tsanawiyah diseluruh nusantara. Sebagai sebuah sesi pengenalan kepada keluarga Rosul SAW diusia dini melalui metode pendekatan seni. Subhanallah….

Aku bersyukur, diakhir zaman ini’ ditengah sistem rezim penguasa yang kebijakannya kacau balau seperti ini, masih ada ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang lantang, berani dan peduli kepada keluarga Nabi SAW.

Sekalipun hujatan dan fitnah keji beliau terima, namun tak secuilpun menggetarkan langkah beliau dalam berjuang dijalanNya. Semoga, SWT senantiasa memberikan kesehatan dan panjang umur kepada beliau beserta semua orang yang terlibat dan membantu pergerakan da’wah, hisbah dan jihadnya.

Amien Yaa Robbal Alamin….

Tinggalkan Komentar Anda :

Tinggalkan Komentar

About Kholil Bangkalani

Simak Juga :

Akhir Tragis Sang Kyai

Dahulu ada seorang ulama yang terkenal dimana-mana. Mampu berjalan diatas permukaan air karena kesolehannya. Namun …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!