Sejarah Dan Perkembangan Tariqoh Qodiriah
Sejarah Dan Perkembangan Tariqoh Qodiriah

Sejarah Dan Perkembangan Tariqoh Qodiriah

Qodiriyah merupakan nama suatu tarekat yang didirikan oleh Syeikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Jaelani Angkatan laut(AL) Baghdadi( 1077- 1166M). Tarekat Qodiriyah tumbuh serta berpusat di Iraq serta Syria setelah itu diiringi oleh jutaan umat muslim yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika serta Asia. Syekh Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qodir Al- Jaelani Al- Baghdadi, ini merupakan urutan ke 17 dari rantai mata emas mursyid tarekat. Tarekat Qodiriyah ini diketahui luwes, ialah apabila murid telah menggapai derajat syekh, hingga murid tidak memiliki sesuatu keharusan buat terus menjajaki tarekat gurunya. Apalagi ia berhak melaksanakan modifikasi tarekat yang lain ke dalam tarekatnya. Perihal itu semacam nampak pada ungkapan Abdul Qadir Jaelani sendiri,“ Kalau murid yang telah menggapai derajat gurunya, hingga ia jadi mandiri bagaikan syeikh serta Allah- lah yang jadi walinya buat seterusnya”.

Tarekat ini mementingkan kasih sayang terhadap seluruh makhluk, rendah hati serta menghindari fanatisme dalam keagamaan ataupun politik. Keistimewaan tarekatnya yakni zikir dengan menyebut- nyebut nama Tuhan. Terdapat asumsi membaca Manaqib Syekh Abdul Qadir al- Jilani pada bertepatan pada 10 malam masing- masing bulan dapat membebaskan kemiskinan. Sebab itu manaqibnya terkenal, baik di Jawa ataupun Sumatera. Ada pula asas- asas dalam tarekat Qodiriyah yakni bercita- cita besar, melakukan cita- cita, membesarkan nikmat, memelihara kehormatan serta membetulkan khidmat kepada Allah SWT. Sebaliknya wirid serta zikir yang dilafalkan yakni“ Lailahaillallahu” dengan berdiri sembari bersenam, mengepalkan tangan ke samping, ke depan, ke muka dengan tubuh yang sigap, serta putus ingatan dengan yang lain, kecuali cuma kepada Allah SWT.

Tarekat Qadariyah diperkirakan awal kali masuk serta tumbuh pada abad ke- 16, tetapi tumbuh pesat di Banten pada abad ke- 19, di masa penjajahan Belanda. Tarekat ini awal kali menyebar di golongan ulama, para kiyai, di pesantren- pesantren tradisional yang didirikan oleh agamawan- agamawan Islam serta setelah itu menyebar ke susunan warga paling utama para petani yang ialah kebanyakan penduduk Banten. Dini mula tersebarnya tarekat ini merupakan sebab para pemuka agama Islam di Banten tidak mau memandang penjajah belanda senantiasa menyiksa, menginjak- injak serta menghilangkan warga Banten. Hingga warga Banten mengadakan pemberontakan yang dipandu oleh ulama serta kiyai, kesimpulannya Belanda merasa terguncang serta menyerah mundur.

Syekh Ahmad Khotib al- Sambasi merupakan guru awal yang menyebarkan tarekat Qadiriyah, meski dalam perjalanannya dia pula mencampurkan tarekat ini dengan tarekat Naqsyabandiyah, setelah itu ajaran dia populer dengan tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dalam garis silsilahnya sehabis Syekh Ahmad Khotib al- Sambasi meninggal, pertumbuhan tarekat Qadiriyah dilanjutkan oleh murid kesayangannya ialah Syekh Abdul Karim Tanara al- Bantani, dia bawa banyak murid sehingga tarekat Qadiriyah tumbuh pesat di Banten apalagi hingga meluas ke segala Indonesia.

Keberadaan tarekat Qadiriyah di Banten dibuktikan dengan terdapatnya rutinitas pembacaan manaqib, yang mereka sebut manaqiban ataupun wawacan seh serta masyhur pula dengan istilah maca seikh, di dalam naskah tersebut berisi tentang pendiri tarekat Qadiriyah, ialah Syekh Abdul Qadir al- Jailani, moralnya, serta seluruh tentang dia. Penyebutan nama ini pula ialah pertumbuhan tarekat Qadiriyah di Banten.

Amalan Tarekat Qadiriyah

Syekh Sambas berkata, ada 3 ketentuan yang wajib dipadati oleh orang yang lagi melaksanakan proses pembersihan diri, antara lain: dzikir, senantiasa merasa diawasi Allah SWT, dedikasi terhadap syekh serta diakhiri dengan khatam dari tarekat Abdul Qadir al- Jailani. Tarekat Qadiriyah mengarahkan 5 ajaran pokok ialah:

Menekuni ilmu pengetahuan yang bersangut paut dengan penerapan seluruh perintah

Mendampingi guru- guru serta sahabat setarekat buat memandang gimana metode mereka melaksanakan ibadah

Meninggalkan seluruh rukhsah serta ta’ wil buat melindungi serta memelihara kesempurnaan amal

Melindungi serta mempergunakan waktu dan mengisinya dengan seluruh wirid serta doa, guna menguatkan kekhusyu`an serta hudur, yang ialah kedatangan hati di hadapan Allah

Mengekang dari jangan hingga melaksanakan hawa nafsu serta terpelihara dari kesalahan.

Ada pula ketentuan yang dicoba buat bertarekat Qadiriyah ialah:

Kesempurnaan Suluk

Ketentuan awal yang dicoba pemeluk tarekat Qadiriyah merupakan kesempurnaan suluk, yang ialah proses mendekatkan diri kepada Allah, dengan penuhi 3 komponen, ialah syariat, tarekat serta hakikat.

Dzikir

Berdzikir ataupun mengingat Allah merupakan salah satu amalan yang wajib dicoba tarekat Qadiriyah. Ada dzikir spesial dalam tarekat yang diberikan tiap- tiap guru, tetapi dzikir utama yang dicoba tarekat ini merupakan mengucapkan kalimat tauhid( Laa ilaha illa Allah) dengan bersuara, semacam yang dicoba syekh Abdul Qadir al- Jailani. Metode mengucapkan kalimat tauhid ini dengan konsentrasi yang kokoh, diam sejenak kemudian menarik napas dari perut hingga terhubung ke otak dengan diiringi pengucapan lafadz“ Laa”, sehingga fikiranpun terkonsentrasi hingga cuma memikirkan Ilahi Robbi. Setelah itu dikala pengucapan“ ilaha” memusatkan kepala ke arah kanan serta diteruskan dengan membaca“ illa Allah” dengan membuang napas serta memusatkan kepala ke arah kiri dengan penuh konsentrasi, menghayati dan merenungi makna kalimat tauhid tersebut dengan sedalam- dalamnya, serta cuma Allah- lah tempat kembali. Sehingga jiwanya tenang serta bebas dari watak tercela.

Dzikir yang diperkuat dalam tarekat ini merupakan kalimat tauhid serta buat waktu dan jumlah teks yang wajib dibaca cocok dengan perintah si guru, ada pula guru juga membagikan amalan ke tiap murid berbeda- beda sebab disesuaikan dengan keahlian murid.

Membaca Shalawat

Shalawat yang dilantunkan dalam tarekat ini merupakan shalawat“ Ibadallah Rijalallah”. Bagi pakar tarekat Qadiriyah shalawat ini mempunyai derajat yang besar. Teks shalawat :

عِبــَادَاللهِرِجَــالَاللهِ

أَغِيْثُـنَـالِأَجْـلِاللهِ

Wahai Hamba hamba Allah, Wahai wali- wali Allah. Tolonglah kami sebab Allah

وَكُـونُـواعَوْنَنــــَالِلّهِ

عَـسـَىنَخْـــظَىبِـفَضْـــــلِللهِ

Bantulah kami sebab Allah, Mudah- mudahan tercapai hajat kami sebab anugerah Allah

وَيَـاأَقْـــطَابُوَيـَاأنْجَـــاب

وَيَـاسَادَاتُ

ويَـاأَحْبَــابُ

Wahai para wali qutub, wahai para wali yang dermawan, wahai para sayyid serta habaib( generasi Rasulullah saw.)

وَأَنْــتُمْيـــَاأُولِىاْلأَلْبَـــــاب

تَـعَـالَـوْوَانـْصُـــرُوْالِلّهِ

Wahai para wali yang mempunyai ide sempurna, engkau merupakan penolong, penyantun, datanglah kemari, tolonglah sebab Allah

سَـــأَلْنَــــاكُــمْسَـأَلْنَـــاُكْــم

وَلِلـزُّلــْفىَرَجَوْنَاكُـمْ

Dengan perantaraan engkau kami meminta, dengan perantaraan engkau kami meminta dengan mengharapkan do’ amu kami dekat dengan Allah

وَفِيْأَمْـرٍقَـصَــدْنَـاكُــمْ

فَـشـُــدُّوْاعَـزْمـَــكُــمْلِلّهِ

Dengan iktikad perantaraan engkau, buat tercapai urusan kami, karenanya kokohkanlah tujuan kami sebab Allah.

فَـيَـــارَبِّيْبِسَــادَاتِي

تَحَـقَّـــقْــلِيْإِشَــــارَتِي

Wahai tuhan kami, dengan perantaraan tuan- tuan yang jadi wali, kokohkanlah petunjuk- Mu kepada kami.

عَـسىَتَـأْتِيْبِشَـــــــارَتي

وَيَــصْـــفُوَقْـــتُـــــنَالِلّهِ

Mudah- mudahan lekas tiba kebahagiaan kami, mudah- mudahan waktu kami bersih buat beribadah sebab Allah

بِكَشْفِالْحَجْبِعَنْعَـيْـنِي

وَرَفْــــعِاْلبَــْيــنِمِنْبَـــيْني

Dengan terbukanya gorden penutup dari mata kami serta hilangkan penghalang antara kami serta Allah

وَطَـمْـسِىاْلكَيْــفِوَاْلايـْنِ

بِـنُـوْرِالْـوَجْــهِيـَااَللهُ

Serta terhapusnya keraguan, gimana Allah serta dimana Allah dengan sinar Dzat Engkau Ya Allah.

صَــلَاةُاللهِمَـوْلَانا

عَلىَمَنْبـِالهُـدَىجَانَــا

Wahai tuhan kami, mudah- mudahan kesejahteraan Allah dilimpahkan kepada orang yang tiba dengan bawa petunjuk kepada kami.

وَمَنْبِاْلحَـــقِّأَوْلانا

شَـفِـيْـــــعِاْلخـَـلْــقِعِنْـــدَالله

Ialah nabi Muhammad, yang membagikan Islam bagaikan agama kami, serta berikan syafaat kepada para makhluk disisi Allah.

Puasa

Puasa merupakan menahan diri dari hawa nafsu, dikala seorang itu puasa ia tidak makan, serta tidak minum, setelah itu tidak melaksanakan hal- hal yang dilarang syariat islam. Puasa buat jadi pemeluk tarekat Qadiriyah ini berbeda dengan puasa- puasa pada biasanya, puasa yang dicoba ini cocok dengan perintah si guru, serta si gurupun memerintahkan cocok batasan keahlian murid, guru tentu faham serta paham keahlian murid. Puasa spesial ini minimun 41 hari, sehabis murid bisa memahami serta melaksanakan perintah dengan baik, hingga si guru hendak meningkatkan lagi apalagi terdapat yang hingga satu tahun berturut- turut. Perihal ini dicoba salah satunya buat melatih diri dari rasa egois serta cinta dunia.

Manaqiban

Ada ritual yang senantiasa dicoba oleh warga Banten, ialah pembacaan manaqib syekh Abdul Qadir al- Jailani. Pembacaan manaqib ataupun wawacan seh ataupun yang lebih masyhur di daerah serbu diucap dengan maca seikh ini dicoba secara teratur, tetapi tiap wilayah kecamatan di Banten itu berbeda- beda. Sebagian daerah membaca manaqib ini satu minggu satu kali, sebagian yang lain satu bulan satu kali. Tetapi tiap hendak diadakan kegiatan khitanan, perkawinan, syukuran rumah baru, serta acara- acara ritual yang lain tentu warga banten senantiasa membaca manaqib ini, pembacaan ini dicoba sehabis isya hingga menjelang fajar saat sebelum kegiatan tersebut diawali.

Isi isi kitab manaqib tersebut, antara lain silsilah nasab sekh Abdul Qadir al- Jailani, sejarah hidupnya, moral serta prilaku dia serta karomah- karomahnya. Warga banten percaya kalau dengan membaca manaqib ini hendak bawa keberkahan serta keselamatan dalam hidup mereka.

Bai`atan

Saat sebelum melaksanakan tarekat dalam tasawuf, calon sufi wajib melaksanakan perjanjian apakah ia betul- betul mau masuk serta mekuti tarekat tersebut ataupun tidak. Perjanjian ini diucap dengan ba`iat, bai`at pula ialah proses pensucian diri yang sangat berarti, apabila tidak menjajaki pembaiatan seorang tersebut batal dalam melakukan tasawuf ataupun kandas dalam mensterilkan jiwanya. Dalam tarekat Qadiriyah ada 2 metode pembaiatan, ialah baiatfardiyah serta bai`at jam’ iyah. Kedua bai`at tersebut bertujuan buat melestarikan tradisi Rasul.

Khataman

Khataman ini dicoba secara teratur, di dalam nya para pemeluk tarekat membaca ratib serta aurad khataman, yang terdapat pada tarekat ini. Setelah itu diawali dengan teks al- fatihah yang dihadiahkan buat Nabi Muhammad SAW, keluarga, teman, para Nabi, malaikat, orang- orang yang wafat dalam kondisi syahid, orang- orang shaleh, para wali, para syekh tarekat, seluruh keluarga muslim pria serta wanita hingga akhir era. Sehabis itu membaca kalimat- kalimat suci secara bertepatan.

Setelah itu menyudahi dengan merenung memikirkan kuasa Allah, memikirkan kesalahan- kesalahan kita, memohon ampunan, memohon pertolongan Allah, memohon keberkahan Allah, serta memohon keistiqomahan dalam melaksanakan tarekat Qadiriyah.

Check Also

Habib Soleh Tanggul Dan Wabah Penyakit

Habib Soleh Tanggul Dan Wabah Penyakit

Ada kisah Habib Sholeh Tanggul Jember yang tak kalah unik dan menarik. Habib Sholeh ini …

Leave a Reply